Belajar Dari Histori Untuk Persiapkan Dana Pensiun

Krisis ekonomi global seringkali disebut-sebut oleh beberapa analis / ekonom sebagai akibat dari ulah para Baby Boomers. Baby Boomers adalah generasi di Amerika Serikat yang lahir pasca perang dunia II, antara tahun 1946 – 1964.

Ceritanya, setelah perang dunia kedua berakhir, angka kelahiran di Amerika meningkat pesat, jumlahnya sekitar 30 % dari total populasi. Istilah Baby Boomers muncul dan terkenal di Amerika sejak keberhasilan Bill Clinton meraih kursi kepresidenan. Di Eropa dan Amerika Utara baby boomer tumbuh dengan hak istimewa, banyak tumbuh banyak subsidi yang meningkatkan kemakmuran.

Mereka adalah generasi yang sehat, dan generasi terkaya saat itu. Generasi baby boomers mulai mengenal televisi. Mereka tahu Perang Vietnam, pembunuhan John F Kennedy, Martin Luther King Jr, dan Robert F Kennedy.

Golongan ini juga mengenal musik, utamanya rock and roll, sebagai cara mengekpresikan identitas generasinya. Lalu mengapa Baby Boomers seringkali disebut sebagai generasi yang menyebabkan krisis finansial di era 2000?

Baby Boomers, generasi kaya pada saat itu, adalah generasi yang terbiasa untuk bersenang-senang dan tidak terbiasa untuk berinvestasi. Memasuki era tahun 2000, generasi Baby Boomers mulai pensiun. Apa yang terjadi kemudian ? Ternyata kebanyakan dari mereka tidak punya uang yang cukup untuk masa pensiunnya. Wow !

Belajar dari fakta para Baby Boomers di atas, apa yang harus kita lakukan ? Kita bisa memilih mempersiapkan masa pensiun kita, atau bisa menjadi sama dengan para baby boomers tersebut.

Lalu bagaimana caranya mempersiapkan masa pensiun dengan baik ? Menabung saja jelas tidak cukup. karena meskipun kita dibiasakan menabung sejak kecil, imbal hasil dari menabung jelas lebih kecil daripada tingkat inflasi.

Cara terbaik mempersiapkan pensiun adalah dengan mulai berinvestasi saham sedini mungkin. Kita bisa memilih untuk menghabiskan penghasilan bulan demi bulan, atau memulai investasi saham. 

Investasi saham telah terbukti memberi pertumbuhan imbal hasil terbesar dalam 30-40 tahun terakhir. Banyak alasan orang tidak memulai berinvestasi, seringkali karena ingin bersenang-senang pada masa mudanya, dengan aji mumpung. Mumpung masih single, habiskan uang untuk bersenang-senang.

Hmm.. apa yang akan terjadi kemudian? Setelah masa lajang berakhir, dan mulai menikah, kita akan mulai dibebani dengan berbagai biaya hidup dan pada saat itu orang mulai beralasan tidak punya cukup uang untuk berinvestasi karena habis untuk rumah tangga. Edukasi finansial dan investasi kepada anak-anak adalah sebuah solusi yang sangat penting bagi finansial mereka.

Edukasi finansial tidak didapatkan di sekolah. Lalu bagaimana caranya mengedukasi anak-anak ? Mulai biasakan anak-anak menyisihkan uang saku untuk membeli sebuah saham yang defensif untuk jangka panjang. 

Boleh membeli saham secara rutin setiap bulan, sehingga menjadi sebuah kebiasaan bagi mereka untuk “menabung” saham. Untuk tujuan “menabung” saham / berinvestasi saham jangka panjang, sebaiknya pilih saham-saham defensif.

Saham-saham defensif cenderung terus dibutuhkan oleh masyarakat dalam jangka panjang. Apa saja contohnya ? Saham defensif contohnya sektor konsumer dan farmasi, atau emiten pengelola jalan tol yang sangat dibutuhkan masyarakat. Untuk keperluan berinvestasi jangka sangat panjang, hindari saham-saham komoditas, CPO, dan pertambangan. Mengapa? Saham-saham sektor pertambangan dan komoditas cenderung bersifat musiman dan lebih cocok untuk trading jangka pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post Beberapa Hal Yang penting Untuk Investor Pemula
Next post Belajar Mencari Peluang Bisnis Di Indonesia